Ngadu Ide #1 ; Sociopreneur : Berbisnis sambil Beramal ~ Belanja Dan Order Kaos Online

Ngadu Ide #1 ; Sociopreneur : Berbisnis sambil Beramal


Bandung - Menjadi wirausahawan tidak harus melulu berorientasi utama pada profit dan mengabaikan sisi manusianya, tapi bisa juga jadi lebih berfokus pada pengembangan kondisi sosial masyarakat yang menjadi target pasar, atau mereka biasa disebut sociopreneur.



Menanggapi keberadaannya di tengah perkembangan ekonomi, maka tema itulah yang diangkat oleh tim Ngadu Ide untuk kegiatan bulanannya yang sudah menginjak kali ke-6.

Dengan tajuk ‘Social Enterprise’, di tanggal 2 Maret,  ini panitia menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Goris Mustaqim (@GorisMustaqim) dari Asgar Muda, dan Zaini Alif (@ZainiAlif) dari Komunitas Hong.

Seperti acara Ngadu Ide #2 , Ngadu Ide #3 , dan Ngadu ide # 5 kegiatan yang diadakan di salah satu ruang publik di Jl.Purnawarman 70 ini menarik minat banyak pihak, dari mulai pebisnis senior, pelaku usaha yang baru start-up, sampai orang-orang yang masih mencari ide untuk diwujudkan. Mereka semua difasilitasi untuk saling berinteraksi dan berkolaborasi melalui beberapa segmen dari acara tersebut, yaitu Teras Ide, Unjuk Kabisa, Unjuk Ide, dan Talkshow.

Teras Ide, sebuah mini eksibisi, kali itu diisi oleh 15 tenants dari bidang usaha yang sangat beragam, dari mulai jasa pembuatan video, konsultasi properti dan keuangan, kopi luwak, croissant, majalah, ornamen fashion seperti tas, sepatu handmade, kaos yang mengkampanyekan isu lingkungan, hingga jam digital unik untuk interior rumah.

Sedangkan di Unjuk Kabisa, ditampilkanlah sebuah film pendek berjudul “Jupe” yang dilanjutkan langsung dengan diskusi singkat bersama pembuatnya, yaitu rumah produksi bernama Kepompong Gendut.

Kemudian di segmen Unjuk Ide, 5 tenants diberi kesempatan untuk mempresentasikan produk mereka di area utama yang mendukung pemutaran video dan slide.

Adalah film ‘Demi Ucok’ yang membuka sesi ini dengan pemutaran trailer-nya. Mereka rupanya sedang mencari 10.000 co-producer dengan kontribusi sebesar Rp.100.000/orang agar terkumpul dana untuk proses kinetransfer digital ke seluloid sehingga bisa tayang di bioskop nasional.

Disusul kemudian oleh kopi Menak, Amphibi Studio, Kirana Art, dan yang terakhir adalah Dream Indonesia Corp. Barulah setelah itu agenda utama dimulai, yaitu talkshow yang dipandu oleh Ben Wirawan dari Mahanagari.

Sesi yang ditunggu-tunggu ini diawali dengan membahas latar belakang dari usaha yang dijalankan. Baik Goris maupun Zaini mengaku semua dimulai dari concern mereka melihat keadaan.

Goris yang memang putra daerah Garut, sadar betul akan potensi tanah kelahirannya yang sangat kaya itu, terlebih dari gunung hingga lautan pun ada disana.

Namun seperti halnya mayoritas daerah di Indonesia, semua tidak tereksplor secara maksimal karena desentralisasi pembangunan di Jakarta.

Maka selepas mengenyam pendidikan di jurusan teknik sipil Institut Teknologi Bandung, kembalilah dia ke Garut untuk mengabdi dan memberdayakan masyarakatnya.


Berdiri tahun 2007, Asgar Muda masih konsisten dengan beberapa programnya, yaitu pembinaan pengrajin dan petani akar wangi, Super Camp (sebuah program persiapan para siswa untuk ke perguruan tinggi), rumah belajar dengan fasilitas komputer dan perpustakaan, hingga kegiatan-kegiatan untuk mendorong kewirausahaan.

“Jika Soekarno pernah bilang, ‘Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia’, buat saya, ‘Beri aku 10 pemuda, maka akan kubangun 10 daerah!”, tegasnya dengan semangat dan wajah berbinar.

Tidak begitu jauh berbeda dengan Goris, Zaini pun ingin memberdayakan kekayaan daerah yang dimiliki. Melalui mainan tradisional, selain melestarikan ragam budaya bangsa dan membangun mental manusianya dengan cara bermain, ternyata dengan adanya komunitas Hong, masyarakat pun terbantu secara ekonomi.

Berdiri sejak 2003, komunitas ini kini dikenal secara luas hingga mancanegara. Para wisatawan asing sering berkunjungke markasnya di Jl. Bukit Pakar Utara, Dago, Bandung, untuk melihat dan mencoba langsung beberapa mainan dari total ratusan yang dimiliki.

Maka selain keuntungan berupa materi dari penjualan tiket masuk ataupun souvenir mainan buatan tangan, secara tidak langsung, anggota komunitas dan penduduk sekitarpun mengalami pembangunan karakter. Mereka bisa berinteraksi dengan orang dari berbagai negara, bertambahnya kepercayaan diri, dan berlatih public speaking.


Untuk jangka menengah, visi Zaini adalah ingin memberikan hadiah istimewa di hari jadi Indonesia ke-100. “Kita mungkin belajar motor ke Jepang, mobil ke Jerman, atau apapun ke Amerika. Tapi, jika ingin belajar mainan tradisional, mereka (orang-orang asing) akan datang ke Indonesia”, ujarnya di akhir talkshow.

Kedua sosok di atas kiranya memberi kita sedikit gambaran bagaimana aspek ekonomi dan sosial bisa saling bersinergi untuk mencapai tujuan ber-socio-preneurship, yaitu; grow intellectually, secure financially, and give impact socially.

Sampai jumpa di Ngadu Ide selanjutnya!